Membuat Brand Menjadi Berarti di Masa Sulit, Pandemi Covid-19

Membuat Brand Menjadi Berarti di Masa Sulit, Pandemi Covid-19

Tahun 2020 rasanya menjadi mimpi buruk yang tak kunjung usai. Masa-masa sulit terus menimpa dan berdampak pada kesejahteraan dan keselamatan manusia di muka bumi. Mulai dari dihadapkannya bencana alam hingga wabah virus Covid-19 yang telah memakan banyak nyawa. ‘Yang kuat yang bertahan’ ungkapan itulah yang menggambarkan situasi dunia saat ini.

Wabah yang tak kasat mata namun mematikan ini, nyatanya jelas bukan hanya kesehatan dan nyawa yang terancam, berbagai sektor penunjang kehidupan manusia seperti lapangan pekerjaan, pendidikan, fasilitas umum, lambat laun ikut lenyap bersama dengan kondisi dunia saat ini. Sistem pendidikan yang awalnya bertatap muka, perusahaan yang tadinya menerapkan sistem “work from office” dengan terpaksa harus mengubah sistem tersebut menjadi pertemuan daring. Tak mudah memang untuk dilalui, apalagi tidak semua pekerjaan dapat diselesaikan melalui daring. Tapi kondisi saat inilah yang memaksa manusia dan aktivitasnya untuk terbiasa.

Tidak terhitung berapa jumlah tenaga kerja yang harus dirumahkan atau diberhentikan dari pekerjaannya karena perusahaan turur terdampak Covid-19. Tingkat pengangguran di Indonesia semakin meningkat dalam kurun waktu yang sangat singkat. Persaingan mencari pekerjaan saat pandemic juga bukanlah merupakan suatu hal yang mudah. Para pengusaha juga harus memutar otak bagaimana tetap mempertahankan usahanya di masa pandemi. Bahkan, tak sedikit pengusaha yang harus gulung tikar karena tidak sanggup mengatasi kondisi yang menimpa perekonomian.

Dalam segala situasi buruk, pasti terdapat sebuah peluang. Masa pandemi ini memanglah sulit dan berdampak terhadap segala sektor. Namun, ternyata dapat dijadikan kesempatan bagi perusahaan atau iindividu untuk melakukan kegiatan branding dengan mengangkat value apa yang sedang dibutuhkan oleh masyarakat sehingga brand itu berarti. Begitu pula untuk brand yang sedang mengalami situasi krisis pada masa pandemi seperti sekarang ini, bukan berati harus menghilang atau gulung tikar, melainkan membentuk strategi dan taktik untuk melakukan berbagai aktivitas yang bisa membangun brand. Bukan dengan secara terus-menerus berjualan, beriklan dan mempersuasi , melainkan untuk bertahan dan berusaha bagaimana caranya agar brand bisa diingat oleh masyarakat. Dalam kondisi ini penting untuk mempertimbangkan value yang sedang dibutuhkan oleh masyarakat, beberapa diantaranya yaitu functional, emotional, dan experiental. Intinya brand yang berarti bagi masyarakat adalah yang sesuai dengan apa yang sedang dibutuhkan saat ini, dalam kondisi yang sulit. Output nya dapat berupa campaign, CSR, public information, dan lain sebagainya.

Dampak pandemi covid-19 turut dirasakan oleh sektor pariwisata, baik perusahaan penyedia tempat wisata, perusahaan travel hingga transportasi umum. Karena fasilitas umum saat ini sangat dibatasi operasinya, maka tak heran terjadi penurunan secara performa dan income. Namun, hal ini tidak menjadikan perusahaan di sektor wisata akan tutup selamanya, ada kalanya semua akan kembali seperti semula, sehingga penting bagi perusahaan yang sedang down untuk tetap menunjukkan eksistensinya.

The Lodge Maribaya tempat wisata yang namanya sudah cukup dikenal sebagai tempat wisata alam yang selalu ramai tak kenal waktu, turut merasakan dampak dari pandemic covid-19. Dimana pemerintah memutuskan untuk melarang pembukaan tempat wisata beberapa waktu lalu saat masa PSBB. Para pekerja akhirnya tidak mendapatkan pemasukan karena tempat wisata yang ditutup sementara. Namun, Lodge Maribaya tetap menunjukkan bahwa mereka masih ada dan tetap menjadi sahabat masyarakat dengan melakukan campaign “tart of hope”. Dalam campaign ini The Lodge Maribaya beralih untuk menjual kue tart dengan target penjualan sebanyak 1000 tart pada bulan Ramadhan. Menariknya, hasil penjualan tersebut akan disumbangkan kepada organisasi-organisasi pemandu wisata dan pekerja di bidang wisata yang tidak mendapatkan penghasilan selama masa pandemi.

Instagram @thelodgemaribaya

Secara tidak langsung campaign yang dijalankan The Lodge Maribayamembentuk hubungan emosional dengan konsumen, karena terciptanya pengalaman berati dengan membeli produk tart of hope maka mereka ikut menyumbangkan sebagian dari rezekinya untuk membantu tenaga kerja terdampak covid-19. Selain terjalinnya sebuah hubungan, juga untuk memberikan nilai pada brand dalam jangka waktu yang panjang. Membangun emosi ini biasanya mengacu pada rasa percaya konsumen. Artinya, bukan kerena kebutuhan saja konsumen ingin membeli produk sebuah brand melainkan karena adanya emosi atau hasrat yang membuat konsumen ingin membeli produk dari sebuah brand.

Sama halnya sektor pariwisata, beberapa di bidang fashion dan designer yang juga terdampak covid-19 sementara harus beralih dan mengikuti memanfaatkan kebutuhan dari masyarakat. Beralih ke Negara tetangga, Malaysia. Seorang designer ternama, Radzuan Radziwill, turut andil dalam memerangi pandemic Covid-19 yang telah membunuh lebih dari 30.000 jiwa di seluruh dunia. Saat mengetahui Negaranya saat itu sempat kekurangan Alat Pelindung Diri untuk para tenaga medis, dengan berbekal kemampuan yang dia milikiRadzuan Radziwill menciptakan APD. Ditargetkan sebanyak 2000 APD sampai kepada seluruh tenaga medis di Malaysia.

Instagram @radzuanradziwill

Tindakan yang dilakukan oleh Radzuan Radziwill ini tentunya menarik banyak perhatian hingga disorot oleh berbagai media mancanegara termasuk media Indonesia. Aktivitas yang dilakukan oleh Radzuan dapat dikatakan sebagai branding functional karena secara tidak langsung public dan media turut menilai aksinya, sekaligus kegiatan tersebut sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Selalu ada cara untuk memenangkan hati publik, bahkan dalam situasi sulit sekali pun. Pembatasan ruang, melemahnya perekonomian, bukan menjadi alasan untuk sebuah brand ikut melemah. Dari contoh yang sudah dijelaskan sebelumnya mengenai bagaimana brand mempertahankan eksistensinya pada masa pandemic, kita belajar beberapa hal untuk menjadikan kegiatan branding itu berarti. Pertama, sebuah brand harus bisa menciptakan produk turunan dari produk utama. Kedua, harus jeli dalam memilih dan memilah medan tempur, tujuannya adalah agar dapat terjadi interaksi dengan publik pada situasi-situasi yang tidak diduga. Ketiga, menyesuaikan proporsi brand atau penyesuaian dengan kebutuhan khusus dari publik.

Tak lupa, menekankan fleksibilitas itu penting. Dimana kita bisa mengambil keputusan secara tepat dan cepat namun tetap fokusnya berada dalam brand yang ingin dipertahankan bukan pada ego masing-masing individu.***

Arnesa Aynun Najmi
[email protected]